Kalimat itu terlontar sejak dulu. Entah kapan kalimat itu dicetuskan pertama kali.
S2 keluar negeri. S2 keluar negeri. S2 keluar negeri.
Kurapalkan dalam doa, kuingat dalam mimpi, dan kutuliskan dalam cita-cita.
Meski tak setiap hari, dulu perasaanku menggebu. Buka web ini itu, baca ini itu. Tapi seiring berjalannya waktu aku mulai menyerah, padahal belum berjuang.
Aku semakin realistis dengan keadaan. Ketika yang lain mulai berlari, aku hanya diam menyaksikan. Aku terlalu payah karena menyerah pada keadaan tanpa memperjuangkan.
Disaat kepayahanku, tak ada yang menyemangatiku. Bukan karena tak ada yang mau, hanya saja tak ada yang tau. Tak pernah kuceritakan pada siapapun. Kurahasiakan rapat-rapat tanpa celah.
Sesekali masih kulontarkan bahwa aku ingin kuliah keluar negeri, meskipun terasa hambar tak semanis dulu. Pun kadang kupanjatkan dalam doa. Hanya sesekali.
Bulan dan tahun pun berganti. Kalimat 'aku pasti bisa!' berubah menjadi 'apakah aku bisa?'.
Sampai akhirnya aku resmi menjadi sarjana, impianku justru semakin menjauh. Halangan untuk meraihnya semakin banyak, ah atau hanya perasaanku saja? Mungkin secara tidak langsung aku sudah membangun tembok penghalang untuk diriku sendiri.
Tegal, 28 Oktober 2017







