Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri (minyak nilam). Tanaman nilam sangat membutuhkan air dalam pertumbuhannya. Air merupakan senyawa yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar. Air yang terkandung dalam isi sel tersebut merupakan media yang baik untuk banyak reaksi biokimia (Fitter dan Hay, 1991).
Berikut klasifikasi dari tanaman Nilam (Mangun, 2005):
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Lamiales
Famili: Lamiaceae
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Lamiales
Famili: Lamiaceae
Genus: Pogostemon
Spesies: Pogostemon cablin (Blanco) Benth
Spesies: Pogostemon cablin (Blanco) Benth
Cekaman air mempengaruhi semua aspek pertumbuhan tanaman, seperti proses fisiologi dan biokimia tanaman serta menyebabkan terjadinya modifikasi anatomi dan morfologi tanaman. Islami dan Utomo (1995) menyatakan bahwa tanaman yang menderita cekaman air (kekeringan) secara umum mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh normal.
Hasil penelitian Anna Median Kurniasari, Adisyahputra dan Rosihan Rosman (2010) menunjukkan bahwa kadar garam NaCl tanah berpengaruh terhadap tinggi tanaman nilam. Rata-rata tinggi tanaman nilam yang ditanam pada keadaan tanah lebih tinggi daripada tanaman nilam pada keadaan tanah kering (85,6 > 74,27 cm). Hal ini menunjukkan bahwa kekeringan dapat menghambat tinggi tanaman nilam.
Terhambatnya pertambahan tinggi tanaman nilam yang mengalami kekeringan disebabkan karena terganggunya aktivitas meristem apikal akibat terbatasnya kandungan air dalam jaringan yang merupakan faktor penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sel. Begitu pula dengan laju pertambahan daun tanaman nilam yang mengalami kekeringan disebabkan oleh terhambatnya perkembangan daun, sehingga daun cepat menguning. Tanaman nilam yang ditanam pada tanah bergaram NaCl memberikan respon yang sangat nyata terutama pada jumlah daun. Hal ini dikarenakan pada tanah bergaram terjadi ketidakseimbangan unsur hara bagi tanaman yang disebabkan karena garam NaCl dapat menurunkan penyerapan unsur Mg dan Mn. Dengan demikian, pengguguran daun akan dipercepat apabila daun telah mengalami kehilangan klorofil (Osborne dalam Bintoro, 1989).
Tingginya kadar garam NaCl pada larutan tanah akan menyebabkan akar tanaman mengalami kesulitan dalam menyerap air akibat tekanan osmotik yang tinggi pada larutan tanah. Salinitas dapat menyebabkan kerapuhan akar dan akar-akar baru mudah pecah (McGuire dan Dvorah dalam Dinata, 1985), akibat menurunnya konsentrasi auksin yang berperan dalam pembentukkan akar. Dengan demikian, air yang dapat diserap oleh tanaman akan lebih sedikit dengan semakin tingginya konsentrasi garam NaCl tanah sehingga menurunkan kandungan air pada jaringan tanaman. Hal ini menyebabkan bobot basah tanaman nilam akan menjadi lebih rendah. Terlihat pula pada bobot basah batang dimana semakin tinggi kadar garam NaCl tanah maka bobot basah batang akan semakin rendah. Ketersediaan air tanah mempengaruhi proses fotosintensis. Hal ini dikarenakan air merupakan bahan baku dalam proses fotosintesis sehingga dapat menurunkan laju fotosintesis. Kekeringan mempengaruhi penurunan tekanan turgor yang dapat menyebabkan stomata tertutup sehingga suplai CO2 untuk fotosintesis berkurang. Dengan menurunnya laju fotosintesis, maka fotosintat akan semakin berkurang sehingga dapat menurunkan produksi bahan kering.
Tanaman nilam yang ditanam pada tanah bergaram NaCl juga memiliki bobot kering yang lebih rendah daripada kondisi normal. Hal ini dikarenakan menurunnya fotosintat akibat laju fotosintesis yang menurun sehingga mempengaruhi produksi bobot kering.. Oleh sebab itu, laju fotosintesis akan menurun dengan rusaknya kloroplas yang berakibat buruk terhadap klorofil. Laju fotosintesis yang menurun tersebut disebabkan pula oleh tertutupnya stomata akibat penurunan tekanan turgor. Penurunan tekanan turgor terjadi karena adanya garam NaCl yang menyebabkan tingginya tekanan osmotik larutan tanah sehingga akar tanaman sulit menyerap air (Djazuli, 2010).
DAFTAR PUSTAKA
Bintoro, M.H. 1989. Toleransi Tanaman Jagung terhadap Salinitas. Disertasi. Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Dinata, K.K. 1985. Pengaruh Salinitas terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Varietas Atomita II dan IR 32. Tesis. Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Djazuli, Muhamad. 2010. Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Pertumbuhan dan beberapa Karakter Morfo-fisiologis Tanaman Nilam. Jurnal Bul. Littro. Vol. 21 No. 1, 8 – 17.
Fitter, A.H. dan R.K.M. Hay. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. (Diterjemahkan oleh Sri Andani dan Purbayanti). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Islami, T. dan W.H. Utomo. 1995. Hubungan Tanah, Air, dan Tanaman. IKIP Semarang Press. Semarang.
Kurniasari, A., M., Adisyahputra dan Rosihan R. 2010. Pengaruh Kekeringan pada Tanah Bergaram NaCl terhadap Pertumbuhan Tanaman Nilam. Jurnal Bul. Littro. Vol. 21 No. 1, 18 – 27.
Mangun, H.M.S. 2005. Nilam. Penebar Swadaya. Jakarta

0 komentar:
Posting Komentar