PENGUJIAN KEMURNIAN BENIH

Teknologi benih adalah suatu ilmu pengetahuan mengenai cara-cara untuk dapat memperbaiki sifat-sifat genetik dan fisik benih yang mencangkup kegiatan-kegiatan seperti pengembangan varietas, penilaian dan pelepasan varietas, produksi benih, pengolahan penyimpanan, pengujian dan sertifikasi benih. Benih merupakan simbol dari suatu permulaan, yang merupakan inti dari kehidupan dari alam semesta dan paling penting adalah kegunaanya sebagai penyambung dari kehidupan tanaman.  
Benih murni yang merupakan salah satu komponen dalam pengujian benih, sangat penting dalam menghasilkan benih yang berkualitas tinggi. Pada pengujian daya berkecambah, benih yang diuji diambil dari fraksi benih murni. Dengan demikian hasil pengujian kemurnian benih dan daya kecambah benih mempengaruhi nilai benih untuk tujuan pertanaman. Pengujian kemurnian digunakan untuk mengetahui komposisi contoh kerja, kemurnian, dan identitasnya yang akan mencerminkan komposisi lot benih yang didasarkan pada berat komponen pengujian. Dalam pengujian kemurnian contoh kerja kemurnian dipisahkan menjadi benih murni, biji tanaman lain, dan kotoron.
Benih adalah biji tanaman yang digunakan untuk tujuan penanaman. Sehingga masalah teknologi benih berada dalam ruang lingkup agronomi. Agronomi sendiri diartikan sebagai suatu gugus ilmu pertanian yang mempelajari pengelolaan lapang produksi dengan segenap unsure alam (iklim, tanah, air), tanaman, hewan dan manusia untuk mencapai produksi tanaman secara maksimal (Kartasapoetra, 1986).
Dalam konteks agronomi, benih dituntut untuk bermutu tinggi sebab benih harus mampu menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimum dengan sarana teknologi yang maju (Sadjad, 1977). Seiring petani mengalami kerugian yang tidak sedikit baik dari segi biaya maupun waktu yang berharga akibat penggunaan benih yang bermutu rendah. Oleh karena itu meskippun pertumuhan dan produksi tanaman sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim dan cara bercocok tanamn, tetapi harus diingat pentingnya pemilihan mutu benih yang akan digunakan.
Pengujian kemurnian benih dilakukan untuk menjaga kualitas benih. Pengujian kemurnian benih adalah pengujian yang dilakukan dengan memisahkan tiga komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih yang selanjutnya dihitung presentase dari ketiga komponen benih tersebut. Tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih. Untuk analisis kemurnian benih, maka contoh uji dipisahkan menjadi 3 komponen sebagai berikut :
a) Benih murni, adalah segala macam biji-bijian yang merupakan jenis/ spesies yang sedang diuji. Yang termasuk benihmurni diantaranya adalah :
1.           Benih masak utuh
2.           Benih yang berukuran kecil, mengkerut, tidak masak
3.           Benih yang telah berkecambah sebelum diuji
4.           Pecahan/ potongan benih yang berukuran lebih dari separuh benih yang sesungguhnya, asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih tersebut termasuk kedalam spesies yang dimaksud
5.           Biji yang terserang penyakit dan bentuknya masih dapat dikenali
a) Benih tanaman lain, adalah jenis/ spesies lain yang ikut tercampur dalam contoh dan tidak dimaksudkan untuk diuji.
b) Kotoran benih, adalah benih dan bagian dari benih yang ikut terbawa dalam contoh. Yang termasuk kedalam kotoran benih adalah:
1.          Benih dan bagian benih
Benih tanpa kulit benih, Benih yang terlihat bukan benih sejati, Biji hampa tanpa lembaga pecahan benih ≤ 0,5 ukuran normal, Cangkang benih, Kulit benih
2.         Bahan lain
Sekam, pasir, partikel tanah, jerami, ranting, daun, tangkai, dll.


Kemurnian benih adalah tingkatan kebersihan benih dari materi-materi non benih/ serasah, atau benih varietas lain yang tidak diharapkan. Biasanya kemurnian benih dinyatakan dalam persentase (%). Pengujian kemurnian benih adalah pengujian yang dilakukan dengan memisahkan tiga komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih yang selanjutnya dihitung presentase dari ketiga komponen benih tersebut. Tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih. (Heddy, 2000).
Kemurnian benih perlu dilakukan karena mempunyai beberapa manfaat diantaranya :
1.      Menjaga kualitas benih terutama varietas unggul
2.      Mengetahui persentase kemurnian benih dari suatu varietas
Untuk analisa kemurnian benih, maka contoh uji dipisahkan menjadi 4 komponen sebagai berikut (Sutopo, 2004) :
1.      Benih murni
Dalam pengertian benih murni termasuk semua varietas dari spesies yang dinyatakan oleh pengirim atau berdasarkan penemuan dengan uji laboratorium. Yang termasuk ke dalam kategori benih murni dari suatu spesies adalah :
a.       Benih masak dan utuh
b.      Benih yang berukuran kecil, mengerut, tidak masak
c.       Benih yang telah berkecambah sebelum diuji
d.      Pecahan benih yang ukuranya lebih besar dari separuh benih yang sesungguhnya, asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih itu termasuk ke dalam spesies yang dimaksud
2.      Benih spesies lain
Komponen ini mencakup semua benih dari tanaman pertanian yang ikut tercampur dalam contoh dan tidak dimaksudkan untuk diuji
3.      Benih gulma
Mencakup semua benih ataupun bagian vegetatif tanaman yang termasuk dalam kategori gulma. Juga pecahan gulma yang berukuran setengah atau kurang dari setengah ukuran yang sesungguhnya tetapi masih mempunyai embrio.
4.      Bahan lain atau kotoran
Termasuk semua pecahan benih yang tidak memenuhi persyaratan baik dari komponen benih murni, benih spesies lain maupun benih gulma; partikel-partikel tanah, pasir, sekan , jerami dan bagian-bagian taanaman sperti ranting, daun dan lain-lain
Dalam pengambilan contoh kerja untuk kemurnian benih ada dua metode yang dapat dilakukan, yaitu:
a) Secara duplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan dua kali.
b) Secara simplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan satu kali. (Kuswanto, 1977)
Sebagai langkah pertama dalam melaksanakan pengujian benih adalah menyediakan suatu contoh benih yang dapat dianggap seragam dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh ISTA. Suatu contoh benih yang diuji harus dapat mewakili keseluruhan kelompok benih yang lebih besar jumlanya.

Benih yang memiliki kemurnian yang tinggi merupakan salah satu takaran atau ukuran untuk menjadi benih bersertifikat. Oleh karena itu pengujian kemurnian benih dilakukan untuk menentukan komposisi berdasarkan berat dari contoh benih yang akan diuji atau dengan kata lain komposisi dari kelompok benih Identitas dari berbagai spesies benih dan partikel-partikel lain yang terdapat dalam contoh.
Sertifikasi Benih adalah suatu proses pemberian sertifikasi atas cara perbanyakan, produksi dan penyaluran benih sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh Departemen Pertanian untuk dapat diedarkan. Sertifikasi Benih dimaksudkan sebagai pelayanan terhadap produsen/penangkar serta pedagang benih. Tujuan pada kegiatan sertifikasi ini antara lain adalah : untuk memelihara kemurnian dan mutu dari varietas unggul serta menyediakan secara kontinyu
kepada petani.
Permohonan sertifikasi dapat dilakukan oleh perorangan atau badan hukum yang bermaksud memproduksi benih bersertifikat, ditujukan kepada Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih. Permohonan sertifikasi hanya dapat dilakukan oleh penangkar benih yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
Pengamatan dilakukan dengan cara menguji 20 gram contoh benih, hasil pengamatan kemurinan benih didapatkan bobot benih murni sebanyak 12,09 gram atau 59,41%, varetas lan sebanyak 4,09 gram atau 19,80%, dan kotoran benh sebanyak 4,29 gram atau 20,79%.
Menurut Sutopo (2004), Analisa kemurnian benih biasanya dilakukan secara duplo. Beda antara hasil ulangan pertama dan kedua tidak boleh lebih tinggi atau lebih rendah dari 5%. Setiap komponen ditimbang lalu ditotal, dimana berat total seharusnya sama dengan berat mula-mula keseluruhan contoh uji untuk kemurnain, tetapi bisa juga kurang. Persentase dari setiap komponen didapatkan dari berat masing-masing komponen dibagi berat total kali 100%. Hasilnya ditulis dalam 2 desimal (dua angka di belakang koma).

PENGARUH CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth)


Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri (minyak nilam). Tanaman nilam sangat membutuhkan air dalam pertumbuhannya. Air merupakan senyawa yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar. Air yang terkandung dalam isi sel tersebut merupakan media yang baik untuk banyak reaksi biokimia (Fitter dan Hay, 1991).
Berikut klasifikasi dari tanaman Nilam (Mangun, 2005):
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Lamiales
Famili: Lamiaceae 
Genus: Pogostemon
Spesies: Pogostemon cablin (Blanco) Benth
Cekaman air mempengaruhi semua aspek pertumbuhan tanaman, seperti proses fisiologi dan biokimia tanaman serta  menyebabkan terjadinya modifikasi anatomi dan morfologi tanaman. Islami dan Utomo (1995) menyatakan bahwa tanaman yang menderita cekaman air (kekeringan) secara umum mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh normal.
Hasil penelitian Anna Median Kurniasari, Adisyahputra dan Rosihan Rosman (2010) menunjukkan bahwa kadar garam NaCl tanah berpengaruh terhadap tinggi tanaman  nilam. Rata-rata tinggi  tanaman  nilam yang  ditanam  pada keadaan tanah lebih  tinggi daripada tanaman nilam  pada  keadaan  tanah  kering (85,6 > 74,27 cm).  Hal ini menunjukkan bahwa kekeringan dapat  menghambat tinggi tanaman nilam.
Terhambatnya pertambahan tinggi tanaman nilam yang mengalami kekeringan disebabkan karena terganggunya aktivitas meristem apikal akibat terbatasnya kandungan air dalam jaringan yang merupakan faktor penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sel. Begitu pula dengan laju pertambahan daun tanaman nilam yang mengalami kekeringan disebabkan oleh terhambatnya perkembangan daun, sehingga daun cepat menguning. Tanaman nilam yang ditanam pada tanah bergaram NaCl memberikan respon yang sangat nyata terutama pada jumlah daun. Hal ini dikarenakan pada tanah bergaram terjadi  ketidakseimbangan unsur hara bagi tanaman yang disebabkan karena garam NaCl dapat menurunkan penyerapan unsur Mg dan Mn. Dengan demikian, pengguguran daun akan  dipercepat apabila daun  telah  mengalami kehilangan klorofil (Osborne  dalam  Bintoro, 1989).
Tingginya kadar garam NaCl pada larutan tanah akan menyebabkan akar tanaman  mengalami kesulitan dalam menyerap air akibat tekanan osmotik yang tinggi pada larutan tanah. Salinitas dapat menyebabkan kerapuhan akar dan akar-akar baru mudah pecah (McGuire dan Dvorah dalam Dinata, 1985), akibat menurunnya konsentrasi auksin yang berperan dalam pembentukkan akar. Dengan demikian, air yang dapat diserap oleh tanaman akan  lebih sedikit dengan semakin tingginya konsentrasi garam NaCl tanah sehingga menurunkan kandungan air pada jaringan tanaman. Hal ini menyebabkan bobot basah tanaman nilam akan menjadi lebih rendah. Terlihat pula pada bobot basah batang dimana semakin tinggi kadar garam NaCl tanah maka bobot basah batang akan semakin rendah. Ketersediaan air tanah mempengaruhi proses fotosintensis. Hal ini dikarenakan air merupakan bahan baku dalam proses fotosintesis sehingga dapat menurunkan laju fotosintesis. Kekeringan mempengaruhi penurunan tekanan turgor yang dapat menyebabkan stomata tertutup sehingga suplai CO2 untuk fotosintesis berkurang. Dengan menurunnya laju fotosintesis, maka fotosintat akan semakin berkurang sehingga dapat menurunkan produksi bahan kering.
Tanaman nilam yang ditanam pada tanah bergaram NaCl juga memiliki bobot kering yang lebih rendah daripada kondisi normal. Hal ini dikarenakan menurunnya fotosintat akibat laju fotosintesis yang menurun sehingga mempengaruhi produksi bobot kering.. Oleh  sebab  itu,  laju fotosintesis akan menurun dengan rusaknya kloroplas yang berakibat buruk terhadap klorofil. Laju fotosintesis yang menurun tersebut disebabkan pula oleh tertutupnya stomata akibat penurunan tekanan turgor. Penurunan tekanan turgor terjadi karena adanya garam NaCl yang menyebabkan tingginya tekanan osmotik larutan tanah sehingga akar tanaman sulit menyerap air (Djazuli, 2010).



DAFTAR PUSTAKA


Bintoro,  M.H.  1989.  Toleransi  Tanaman Jagung terhadap Salinitas. Disertasi. Fakultas  Pasca  Sarjana  Institut Pertanian Bogor.
Dinata,  K.K.  1985.  Pengaruh  Salinitas terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi  Varietas Atomita  II  dan  IR  32. Tesis.  Fakultas  Pasca  Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Djazuli, Muhamad. 2010. Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Pertumbuhan dan beberapa Karakter Morfo-fisiologis Tanaman Nilam. Jurnal Bul. Littro. Vol. 21 No. 1, 8 – 17.
Fitter, A.H. dan R.K.M. Hay. 1991. Fisiologi Lingkungan  Tanaman.  (Diterjemahkan oleh  Sri  Andani  dan  Purbayanti). Gadjah  Mada  University  Press. Yogyakarta.
Islami,  T.  dan  W.H.  Utomo.  1995. Hubungan  Tanah,  Air, dan  Tanaman. IKIP Semarang Press. Semarang.
Kurniasari, A., M., Adisyahputra dan Rosihan R. 2010. Pengaruh Kekeringan pada Tanah Bergaram NaCl terhadap Pertumbuhan Tanaman Nilam. Jurnal Bul. Littro. Vol. 21 No. 1, 18 – 27.
Mangun,  H.M.S.  2005. Nilam.  Penebar Swadaya. Jakarta

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.